Skip to content

Pebisnis china merajalela

http://formulabisnia-ibenkspermana.blogspot.com
http://membangunkeberhasilandiinternet.blogspot.com

http://imbanks.friendster.blog.com

http://vidiarya.blogspot.com

http://www.yuwie.com/211115

http://persadaikan.wetpaint.com

Kamis, 29 Januari 2009 | 05:58 WIB

DAKAR, RABU — Pebisnis China ”merajalela” dengan menancapkan kuku di Benua Afrika. Ekspansi bisnis terus berlanjut meski krisis ekonomi global sedang terjadi. Ekspansi ini kebalikan dari tindakan pemodal Barat yang berhamburan keluar dari Afrika.

Visi pebisnis China berjangka panjang sehingga krisis tidak menyurutkan minat mereka memperkuat pijakan di benua yang kaya sumber daya alam mineral itu.
Pebisnis dan pemerintahan Beijing terus mengalokasikan dana investasi puluhan miliar dollar AS, khususnya di sektor pertambangan. Salah satu alasan utama ekspansi itu adalah mengamankan kebutuhan energi jangka panjang China.

Visi ini tidak luntur hanya karena krisis ekonomi global, yang memang turut menghunjam sektor keuangan perusahaan China. Perdagangan bilateral China-Benua Afrika naik 30 persen per tahun sepanjang dekade 2000-an menjadi sekitar 107 miliar dollar AS pada 2008. ”China bercokol di Afrika untuk tujuan jangka panjang dan bersifat strategis,” kata David Shinn, mantan Dubes AS di Etiopia dan Burkina Faso, yang kini mengajar di Elliott School of International Affairs, George Washington University, Washington, AS. ”Menurut saya, mereka tidak akan mundur,” kata Shinn.

Terus memburu

Korporasi China kini malah terus sibuk berburu kesempatan baru di Afrika. Perusahaan-perusahaan India dan China telah menyatakan minat mengambil alih Luanshya Copper Mines, perusahaan tambang tembaga Zambia yang berhenti beroperasi Desember 2008. Sekitar 20 persen saham dari Standard Bank, sebuah bank di Afrika Selatan, sudah dimiliki Industrial and Commercial Bank of China (ICBC).

Bulan lalu, Standard Bank merekomendasikan agar korporasi asal China meningkatkan investasi di sektor pertambangan di seantero Afrika. ”Mereka melihat tahun 2009 dan mengatakan ini adalah sebuah kesempatan besar untuk melakukan pembelian. Mereka mendapatkan dukungan pemerintah untuk itu,” kata Thys Terblanche, ahli sektor pertambangan dari Standard Bank.

Namun, minat China tidak hanya di sektor pertambangan, tetapi juga pembangunan infrastruktur dan teknologi. Huawei Technologies, perusahaan telekomunikasi China yang berbasis di Shenzen, juga terus menancapkan kuku bisnis di Afrika. ”Saya tidak melihat alasan bagi China untuk menyurutkan niat berinvestasi di Afrika,” kata Shinn.

Presiden Zambia Rupiah Banda dan Menteri Perdagangan China Cheng Deming telah meresmikan pembangunan kawasan ekonomi tahap kedua di Lusaka, ibu kota Zambia. Kawasan ini menjadi lokasi bagi perakitan barang elektronik asal China, seperti televisi dan telepon seluler, untuk tujuan ekspor.

Di Liberia, China Union telah menandatangani kontrak bisnis senilai 2,6 miliar dollar AS untuk tambang bijih besi. (AFP/AP/REUTERS/MON)

sumber:www.kompas.com

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: